Seperti itu juga aku, persis yang kualami saat ini. Saat
seseorang berkata cinta pada kita, namun lama-kelamaan omongan itu juga basi
dan akhirnya mengundang air mata yang tiada batas waktu. Seharusnya aku ingin baik-baik dan tersimpan
utuh air mataku, namun tak menolaknya rasa sakit, kesal, dan kecewanya maka
kuharus medinarkan
air mata di pipiku.
Luka ini selalu ada, dan tak berakhiri dari sakitnya hati
ini. Mungkinlah ini akan terobati ketika aku mengenal sesosok dia. Senyuman
buat aku dan berkata,, “Hmm,,
ade Meilandku”. Ia namanya Sherfa Wapi. Biasa disapa Sherfa. Ganteng, sopan dan
paling yang aku suka dibalik penampilan yang sederhana menipu pandanganku. Aku
kira, ia anak orang sederhana yang seperti aku ini. Ternyata ia anak orang kaya
dan terpandang di desanya. Wui,, paranya.
“Bagaimana mungkin aku bisa dapat kaka Sherfa,” berbatin
selalu dalam batinku, setiap aku bertemu dan memberi senyum padaku. Arghh,,
kaka Sherfa..Sherfa.
Detak jantung ini tak pernah sedebar, jika aku bertemu dengan
lawan jenis lainnya. Selain kaka Sherfa. Mungkin ini cinta. “Arghh,, Bodoh
Meiland, dia kaka kelas tiga (3). Mana mungkin mau sama kamu yang cuma adik
kelas, yang berharap terlalu besar.” Berbatinku, ketika berbaringan dalam
tempat tidurku.
Keesokan harinya, matahari terus terpancar terang
menjemuri bumi. Jadinya aku tetap tegar untuk bangun pagi dan siap berangkat ke
sekolah. aku berjalan kaki dan setibanya di halte, aku SMS temanku, Merry.
Untuk kita sama-sama berangkat memakai motor metik putih itu.
Ia pun
datang dan menjemputku.
“Meiland, lihat di belakang kita. Jaket biru bergaris,
tebak siapa?” kata temanku, Merry sambil melihat kaca spion. “ Siapa ya, hati
dag dig dug ini. My dear, di belakangku”
ujarku sambil senyum-senyum sendiri.“Ciee, pagi-pagi sudah ada yang senang ini”
ledek Merry.
Sesampai di parkiran sekolah, ternyata kak Sherfa juga
parkir di samping motornya Merry. Wui,, keren sekali, saat dia buka helmnya
sampai aku tak tahan gemaran cinta pada kaka dia.
“Meiland, Meiland.. Hello?” panggil Merry.
“Hah, apa apa” jawabku kaget.
“Mantap sekali
kaka Sherfa tadi saat buka helmnya, tak peduli walaupun motornya bukan motor
ninja, atau sejenisnya” kata Merry panjang lebar padaku.
“ Ya,ya keren,
puas” Merry berkata. “ Puas,” kataku sambil kita masuk kelas X4 Maichel Angelo
Buonarotty.
Di kelas, aku tak tahan sakit kepala. Rasanya ruangan
kelas ini putar-putar. Merry mengantar aku ke UKS dan memaniku. “Merry, gorden
jendelanya dibuka” kataku dan apa yang kulihat di lapangan. Ada kaka Sherfa
sedang jadwalnya olahraga. Dan begitu buka gorden, entalah kaka Sherfa melihat
kita dan tersenyum luru-lurus padaku. Wui,, ini obat ini rasanya, sakit
kepalaku kini jadi mending. Ya Tuhan jantungku tambah dag, dig, dug. Setelah
kulihat senyuman tersunggung padaku.
Sambil digandeng Merry, aku kembali ke kelas dan hadia terindah yang kudapat hari ini adalah
senyuman itu, kaka Sherfa tersenyum padaku.
“Kami belajar pun asyik. Tak rasa sakit di badanku.”
Berbatin Selly.
Bunyi loncen pun terdengar. Tandanya, proses belajar
mengajar hari ini telah akhiri. Aku dan Merry pun mengayungkan beberapa langka
mendekati tempat parkiran sekolah. Kita menemui motornya, Merry ban belakang
dan depan kempes total.
“ Merry, tak ada perkerjaan lain jadi mereka berbuat begitu.
Kolot mereka!” kataku emosi.
“ Kenapa dek?” tanya kaka Sherfa tak aku sadari, ia sudah
di sampingku.
“Hahah, kempes ini kak” kataku dengan grogi.
“Ohh” katanya,
singkat. Hanya itu ia tanya simpel tapi bagiku angat berharga. Apa lagi dia
orang yang kujadi-jadikan sebagai hembusan napasku. Mana Merry cuma pegang hp
saja, menipu kaka dia, Merry ada asyik smsan.
Kaka Sherfa membuka jock motornya dan ia memberi kita
pompa. Aku ambil dan mencoba mengisinya tapi tak mengisi-mengisi. Masih saja,
kempes. Tahu to, ini cuma setiap
tarikan dua kali dan berhenti istirahat.
“Kok, seperti begini bagaimana, ban terisi total” kata
Sherfa dengan lembut dan sopan. Sudah, sekarang kaka dia yang pompa dan aku
hanya pegang pelek. Akhirnya bisa terisi dan tanpa kendala.
Kaka Sherfa pun star motor jalan, entah kemana. Aku dan
Merry pun sama. Tak sampai 50 m ke depan Merry ketawa terbahak-bahak.
“Aku Jujur, Selly. Tadi, aku mengujimu. Biar kamu pun
bisa rasakan betapa groginya, kita ketemu dengan orang yang kita berbunga.”
kata Merry.
“Ahh, kalau begini
terus aku mau-mau saja, asalkan kaka Sherfa penggerak aku yang menahan pelek.
Sekaligus penadah” jawab Selly agak kata romantis.
Sherfa Wapi, simpel sekali namanya kaya aku juga
Marseliana. Haha,,cocok sekali. Yang ada di pikiranku minggu-minggu ini cuma
sherfa saja, sampai mama disuruh sterika pakaian 50 kg pun, kumampu habiskan.
Pagi ini, berbagai anekaragam bioma yang bersura namun
kuterdengar jelas hanya semerdu suara burung maleo, membangunkanku dari
ketiduranku. Sedetik lagi, suara Handphone
bergetar. Ternyata sms dari si Merry “ Kamu dan kaka Sherfa satu ruang saat
semester ganjil ini.” Kutipnya begitu.
Senangnya tak tertolong, dan tambah girang lagi, kalau
aku satu bangku dengan kaka Sherfa. Bayangkan saja, pasti tak sabar menunggu
matahari menyambut aku di sekolah.
Esok paginya aku berangkat kesekolah untuk ikut ujian.
Aku cek daftar tempat duduk yang terpempel di pintu, “Marselina nomor 07
pasangan bangkunya dengan Novena, ia nomor 07 juga. Aduh, sial sekali deh. Aku
tak satu bangku dengan my Dear. Kaka Sherfa nomor 12 dengan Sia. Sedih, sial
juga. Memang sial nasibku.
“Ban motornya kempes lagi, tidak ade?” ujar kaka Sherfa
tiba-tiba dari belakang.
“Tambah berbunga saja ini. Oh iya makasih kaka, lain kali
bantu lagi ya” jawabku.
“Tidak mau, ah. Kalau yang memompanya tidak ada tenaga”
balas kaka Sherfa. “Hmmm,,kaka Sherfa. Jangan begitu” kataku sambil memukul
bahunya.
Lucu juga kaka Sherfa, ternyata aku tak henti-hentinya
untuk melihat kaka dia. Saat ia kerjakan soal ujian. Andaikan dia tahu seberapa
besar hatiku buatnya.
Kita bersapa seperti biasa. Memang adik kaka kok.??
Setelah tiga bulan lamanya, aku sudah dekat dengan kak
Sherfa. Kini, SMS, Inbox, WhasApp dan mention-mentionan lancar.
Tapi sunggu! Semua SMS kubaca dan teriama tapi yang
kuanggap hari telah siang adalah ketika Sabtu,
28 Agustus 2015. Pada pukul 15.00 WIB. Hari memperingati st. Yohanaes
Pembamptis “ Yang mana ia dipanggil sebagai sang peluruskan jalan bagi Tuhan”.
Semua isi SMS nya kuingat jelas. “Ade bagus, aku telah
terhipnotis dengan kutipan kata-kata sebelumnya. Kaka telah jatuh cinta
denganmu. Aku janji, aku akan setia sampai ajal yang menjemput kita.” Kutipan
smsnya. Wui, betapa
terobatinya batinku. Selly harap,
hatiku tak memberi kepada siapa pun. Yang ada dalam hatiku, pikiranku, dan
ingatanku hanya kau lelaki lembutku, Sherfa Wapi.
Saat minggu pertama, semua rasa dan cinta akan berjalan
dengan mulus-semulusnya. Rasa di hatiku hanya untuknya. Saat malam minggu
pertama kita bertemu di Balkon samping rumahku dan dia sangat romantis
memperlakukanku seibarat puterinya. Jujur dia orangnya baik, ganteng, dan
sopan. Minggu kedua pun demikian, yang ada hanya indah saja.
Tapi minggu
ketiga, mengapa harus ada peristiwa seperti ini, “Aku sayang sama kamu tapi
lebih sayang hanya teman baikku dari kelas satu. Namanya Rosita. Ia sebagai
pelengkap hidup. Terutama dalam proses sekolah, dari awal hingga kini. Aku tak enak, kalau harus menolaknya.”
Kutipan bunyi smsnya.
“Ok, Bajingan! Sekarang apa yang aku harus lakukan?
Tanyaku dari telphone dengan mataku berkaca-kaca.
“Kita putus saja, dek. Aku sayang sama kamu tapi aku tak
bisa” kata kak Sherfa.
“Kak, kamukan sudah tahu, kalau kamu sudah ada yang,
memilikimu tapi kenapa masih mengganggu aku. Gila!” kataku dengan nada tinggi.
“ Maaf adek bagus” kata Sherfa.
“Biar sudah,, sayangku. Aku tak mampu menahan matahari
yang telah terbenam di sengja hari. Setelah terbenamnya, hanya ada untuk menjemput
gelapnya malam yang tak beraturan. Hanya, ada angin, hujan gerimis bahkan
petir. Peristiwa ini pula kudapi detik ini.” Kata terakhirku, walau kedua terjun ini tetap dan lancar
dari kedua pipiku yang iba ini.
“Tut, tut, tut” Suara telepon pun diakhiri.
"Aduh, goblok! Sakit."
Semoga kau senang dengan keputusanmu. Sekarang, walau
kini tinggallah luka yang sangat dalam dan susah untuk move on. Tapi, mungkin Meiland tetap
untuk mencintaimu, kak Sherfa. Ingat! Aku tak akan lupa namamu. Kamu juga
Sherfa Wapi dan Aku pun Meiland. Aku tetap menunggu dirimu dalam heningan luka
batin yang paling dalam untuk menyembukan
kembali darinya. Kaka, adik Meiland sakit.
END
Oleh: Fabianus
Pigome

Tidak ada komentar:
Posting Komentar