Social Icons

Pages

Jumat, 22 Januari 2016

Layunya Bunga Cinta "Sakitnya Batin Ku"


Salah satu pelajaran berharga di dunia ini, adalah cinta. Susah, sedih bahkan sakit aku lewati bersamanya. Awalnya seperti kupu-kupu yang percaya dengan bunga yang selalu memberi madunya alias kemanisan, tapi saat madu itu mulai akan basi, lama-kelamaan madu itu juga akan pahit.

Seperti itu juga aku, persis yang kualami saat ini. Saat seseorang berkata cinta pada kita, namun lama-kelamaan omongan itu juga basi dan akhirnya mengundang air mata yang tiada batas waktu.  Seharusnya aku ingin baik-baik dan tersimpan utuh air mataku, namun tak menolaknya rasa sakit, kesal, dan kecewanya maka kuharus medinarkan air mata di pipiku.

Luka ini selalu ada, dan tak berakhiri dari sakitnya hati ini. Mungkinlah ini akan terobati ketika aku mengenal sesosok dia. Senyuman buat aku dan berkata,, “Hmm,, ade Meilandku”. Ia namanya Sherfa Wapi. Biasa disapa Sherfa. Ganteng, sopan dan paling yang aku suka dibalik penampilan yang sederhana menipu pandanganku. Aku kira, ia anak orang sederhana yang seperti aku ini. Ternyata ia anak orang kaya dan terpandang di desanya. Wui,, paranya.

“Bagaimana mungkin aku bisa dapat kaka Sherfa,” berbatin selalu dalam batinku, setiap aku bertemu dan memberi senyum padaku. Arghh,, kaka Sherfa..Sherfa.
Detak jantung ini tak pernah sedebar, jika aku bertemu dengan lawan jenis lainnya. Selain kaka Sherfa. Mungkin ini cinta. “Arghh,, Bodoh Meiland, dia kaka kelas tiga (3). Mana mungkin mau sama kamu yang cuma adik kelas, yang berharap terlalu besar.” Berbatinku, ketika berbaringan dalam tempat tidurku.

Keesokan harinya, matahari terus terpancar terang menjemuri bumi. Jadinya aku tetap tegar untuk bangun pagi dan siap berangkat ke sekolah. aku berjalan kaki dan setibanya di halte, aku SMS temanku, Merry. Untuk kita sama-sama berangkat memakai motor metik putih itu.
Ia pun datang dan menjemputku.

“Meiland, lihat di belakang kita. Jaket biru bergaris, tebak siapa?” kata temanku, Merry sambil melihat kaca spion. “ Siapa ya, hati dag dig dug  ini. My dear, di belakangku” ujarku sambil senyum-senyum sendiri.“Ciee, pagi-pagi sudah ada yang senang ini” ledek Merry.
Sesampai di parkiran sekolah, ternyata kak Sherfa juga parkir di samping motornya Merry. Wui,, keren sekali, saat dia buka helmnya sampai aku tak tahan gemaran cinta pada kaka dia. 
“Meiland, Meiland.. Hello?” panggil Merry.
“Hah, apa apa” jawabku kaget.
 “Mantap sekali kaka Sherfa tadi saat buka helmnya, tak peduli walaupun motornya bukan motor ninja, atau sejenisnya” kata Merry panjang lebar padaku.
 “ Ya,ya keren, puas” Merry berkata. “ Puas,” kataku sambil kita masuk kelas X4 Maichel Angelo Buonarotty.

Di kelas, aku tak tahan sakit kepala. Rasanya ruangan kelas ini putar-putar. Merry mengantar aku ke UKS dan memaniku. “Merry, gorden jendelanya dibuka” kataku dan apa yang kulihat di lapangan. Ada kaka Sherfa sedang jadwalnya olahraga. Dan begitu buka gorden, entalah kaka Sherfa melihat kita dan tersenyum luru-lurus padaku. Wui,, ini obat ini rasanya, sakit kepalaku kini jadi mending. Ya Tuhan jantungku tambah dag, dig, dug. Setelah kulihat senyuman tersunggung padaku. 

Sambil digandeng Merry, aku kembali ke kelas dan  hadia terindah yang kudapat hari ini adalah senyuman itu, kaka Sherfa tersenyum padaku.
“Kami belajar pun asyik. Tak rasa sakit di badanku.” Berbatin Selly.
Bunyi loncen pun terdengar. Tandanya, proses belajar mengajar hari ini telah akhiri. Aku dan Merry pun mengayungkan beberapa langka mendekati tempat parkiran sekolah. Kita menemui motornya, Merry ban belakang dan depan kempes total.

“ Merry, tak ada perkerjaan lain jadi mereka berbuat begitu. Kolot mereka!” kataku emosi.
“ Kenapa dek?” tanya kaka Sherfa tak aku sadari, ia sudah di sampingku.
“Hahah, kempes ini kak” kataku dengan grogi.
 “Ohh” katanya, singkat. Hanya itu ia tanya simpel tapi bagiku angat berharga. Apa lagi dia orang yang kujadi-jadikan sebagai hembusan napasku. Mana Merry cuma pegang hp saja, menipu kaka dia, Merry ada asyik smsan.

Kaka Sherfa membuka jock motornya dan ia memberi kita pompa. Aku ambil dan mencoba mengisinya tapi tak mengisi-mengisi. Masih saja, kempes. Tahu to, ini cuma setiap tarikan dua kali dan berhenti istirahat.

“Kok, seperti begini bagaimana, ban terisi total” kata Sherfa dengan lembut dan sopan. Sudah, sekarang kaka dia yang pompa dan aku hanya pegang pelek. Akhirnya bisa terisi dan tanpa kendala.
Kaka Sherfa pun star motor jalan, entah kemana. Aku dan Merry pun sama. Tak sampai 50 m ke depan Merry ketawa terbahak-bahak.

“Aku Jujur, Selly. Tadi, aku mengujimu. Biar kamu pun bisa rasakan betapa groginya, kita ketemu dengan orang yang kita berbunga.” kata Merry.
 “Ahh, kalau begini terus aku mau-mau saja, asalkan kaka Sherfa penggerak aku yang menahan pelek. Sekaligus penadah” jawab Selly agak kata romantis.
Sherfa Wapi, simpel sekali namanya kaya aku juga Marseliana. Haha,,cocok sekali. Yang ada di pikiranku minggu-minggu ini cuma sherfa saja, sampai mama disuruh sterika pakaian 50 kg pun, kumampu habiskan.

Pagi ini, berbagai anekaragam bioma yang bersura namun kuterdengar jelas hanya semerdu suara burung maleo, membangunkanku dari ketiduranku. Sedetik lagi, suara Handphone bergetar. Ternyata sms dari si Merry “ Kamu dan kaka Sherfa satu ruang saat semester ganjil ini.” Kutipnya begitu.
Senangnya tak tertolong, dan tambah girang lagi, kalau aku satu bangku dengan kaka Sherfa. Bayangkan saja, pasti tak sabar menunggu matahari menyambut aku di sekolah.
Esok paginya aku berangkat kesekolah untuk ikut ujian. Aku cek daftar tempat duduk yang terpempel di pintu, “Marselina nomor 07 pasangan bangkunya dengan Novena, ia nomor 07 juga. Aduh, sial sekali deh. Aku tak satu bangku dengan my Dear. Kaka Sherfa nomor 12 dengan Sia. Sedih, sial juga. Memang sial nasibku. 

“Ban motornya kempes lagi, tidak ade?” ujar kaka Sherfa tiba-tiba dari belakang.
“Tambah berbunga saja ini. Oh iya makasih kaka, lain kali bantu lagi ya” jawabku.
“Tidak mau, ah. Kalau yang memompanya tidak ada tenaga” balas kaka Sherfa. “Hmmm,,kaka Sherfa. Jangan begitu” kataku sambil memukul bahunya.
Lucu juga kaka Sherfa, ternyata aku tak henti-hentinya untuk melihat kaka dia. Saat ia kerjakan soal ujian. Andaikan dia tahu seberapa besar hatiku buatnya.
Kita bersapa seperti biasa. Memang adik kaka kok.??

Setelah tiga bulan lamanya, aku sudah dekat dengan kak Sherfa. Kini, SMS, Inbox, WhasApp dan mention-mentionan lancar. 
Tapi sunggu! Semua SMS kubaca dan teriama tapi yang kuanggap hari telah siang adalah ketika Sabtu, 28 Agustus 2015. Pada pukul 15.00 WIB. Hari memperingati st. Yohanaes Pembamptis “ Yang mana ia dipanggil sebagai sang peluruskan jalan bagi Tuhan”.

Semua isi SMS nya kuingat jelas. “Ade bagus, aku telah terhipnotis dengan kutipan kata-kata sebelumnya. Kaka telah jatuh cinta denganmu. Aku janji, aku akan setia sampai ajal yang menjemput kita.” Kutipan smsnya. Wui, betapa terobatinya  batinku. Selly harap, hatiku tak memberi kepada siapa pun. Yang ada dalam hatiku, pikiranku, dan ingatanku hanya kau lelaki lembutku, Sherfa Wapi.

Saat minggu pertama, semua rasa dan cinta akan berjalan dengan mulus-semulusnya. Rasa di hatiku hanya untuknya. Saat malam minggu pertama kita bertemu di Balkon samping rumahku dan dia sangat romantis memperlakukanku seibarat puterinya. Jujur dia orangnya baik, ganteng, dan sopan. Minggu kedua pun demikian, yang ada hanya indah saja.

Tapi minggu ketiga, mengapa harus ada peristiwa seperti ini, “Aku sayang sama kamu tapi lebih sayang hanya teman baikku dari kelas satu. Namanya Rosita. Ia sebagai pelengkap hidup. Terutama  dalam proses sekolah, dari awal hingga kini. Aku tak enak, kalau harus menolaknya.” Kutipan bunyi smsnya.

“Ok, Bajingan! Sekarang apa yang aku harus lakukan? Tanyaku dari telphone dengan mataku berkaca-kaca.
“Kita putus saja, dek. Aku sayang sama kamu tapi aku tak bisa” kata kak Sherfa.
“Kak, kamukan sudah tahu, kalau kamu sudah ada yang, memilikimu tapi kenapa masih mengganggu aku. Gila!” kataku dengan nada tinggi.

“ Maaf adek bagus” kata Sherfa.

“Biar sudah,, sayangku. Aku tak mampu menahan matahari yang telah terbenam di sengja hari. Setelah terbenamnya, hanya ada untuk menjemput gelapnya malam yang tak beraturan. Hanya, ada angin, hujan gerimis bahkan petir. Peristiwa ini pula kudapi detik ini.” Kata terakhirku, walau kedua terjun ini tetap dan lancar dari kedua pipiku yang iba ini.  

“Tut, tut, tut” Suara telepon pun diakhiri. 
"Aduh, goblok! Sakit."

Semoga kau senang dengan keputusanmu. Sekarang, walau kini tinggallah luka yang sangat dalam dan susah untuk move on. Tapi, mungkin Meiland tetap untuk mencintaimu, kak Sherfa. Ingat! Aku tak akan lupa namamu. Kamu juga Sherfa Wapi dan Aku pun Meiland. Aku tetap menunggu dirimu dalam heningan luka batin yang paling dalam untuk menyembukan kembali darinya. Kaka, adik Meiland sakit.

END

Oleh: Fabianus Pigome

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Blogger Templates