| Oleh Agustinus Keiya |
Kamis, 28 Januari 2016
RINDU YANG TAK BISA HAPUSKAN
Tak ku sangka rindu
mama....
Beta kah melihat anakmu
KAWAN KAU PERGI & TINGGALKAN KENANGAN
![]() |
| Almarhum Natalis Iyai |
KAWAN KAU PERGI DAN TINGGALKAN KENANGAN (Selamat Jalan Sahabat)
Tertenggung membaca kisah kepergiaanmu,
Bergetar hati ikut bersedih,
Bulir air mata pun jatuh tak tertahan,
Termanggu dalam hening jiwa,
Tertenggung membaca kisah kepergiaanmu,
Bergetar hati ikut bersedih,
Bulir air mata pun jatuh tak tertahan,
Termanggu dalam hening jiwa,
Adik jago….Natalis Iyai ….
Terkenang kata-kata yang pernah kau ungkapkan,
Teringat senyum yang pernah kau hadirkan terhadap kami Mee Yokaa Gorontalo
Terpesona ceritamu yang terhibur buat kami,
Nilai semangat
dan persahabatan yang kau perna cipta sejak tahun 2015
Masih terukir dalam benak hati kami
sahabat….. Natalis Iyai
Meski kini kau telah tiada,
Namun, namamu tetap tertulis di dalam benak hati kami “Mee Yokaa Gorontalo”,
Selamat jalan Sahabat, dan Selamat
Lepaskan semua lelah dan deritamu,
Tersenyumlah kembali pada SANG PENCIPTA
Kami yang menangis kepergianmu,
Kami yang terdiam tak bisa berkata,
Pergilah sahabat, adik yang pernah kami sayangi,
Kami tetap mendoakan mu,
Agar Arwa mu di terima oleh Bapa di Surga
Jumat, 22 Januari 2016
AYAH KAU PERGI UNTUK SELAMANYA TINGGALKAN CERITA PADA KU
By. Mabipai.B.Pigome-Wajahmu selalu terbayang dalam termenung tidurkuTertenggung, aku terrenung kisah kepergiaanmu
Sejak dahulu, benarkah engkau pergi kepada yang Maha
Kuasa
bergetar luluh perih hati ini melepasmu,
Bulir air mata jatuh tak tertahan lagi, untukmu Ayah,
Termenung dalam hening jiwa selalu Bertanya
bergetar luluh perih hati ini melepasmu,
Bulir air mata jatuh tak tertahan lagi, untukmu Ayah,
Termenung dalam hening jiwa selalu Bertanya
Dimanakah Ayah...?
Kuingin bertemu denganmu,
Tetapi itu hanyalah kepedihan hatiku,
Aku mencari dalam tidur ku pun tak bertemu,
Hatiku bertanya lagi
Benarkah engkau sudah telah pergi...?
Meski kini kau telah pergi dan tiada
sampingku,,
Namun, namamu tetap tertulis didalam benak hatiku,
Namun, namamu tetap tertulis didalam benak hatiku,
Aku menanyis untukmu seorang Ayah,
Hanya air mata yang bercerita padaku,
Apakah anda dengar tangis dan rinduku...?
Aku mencari dalam mimpiku pun,
Tak pernah bertemu,
Namun tiada kau disampingku
Aku tetap anakmu,,
Engkau tetap Ayahku,
Asrama
Cenderawasi IX Papua Gorontalo No.Kamar 20 Oleh
Beatus Pigome
Jalan Pasti ada Tujuan yang Bisa Kita Tempuh
![]() | |||
| Oleh Mabipai.B.Pigome |
Jalan
Pasti ada Tujuan yang Bisa Kita Tempuh
Dalam perjalanan ini,
jalan yang sangat mengedihkan lubuk hati anak Negri
Derita selalu menambah,
Anak Manusia Hilang
diatas rimbah hijauh setiap detik,
Kawanku
relah berusaha menemui manusia yang telah hilang,
Dan
menghapus derita anak Negri
Tetapi, tak bisa menemui
dan menhapuskan semuanya,
Dan kita sama-sama yakin dan
percaya bahwa,
Persoalan yang terjadi ini bukan
menghancurkan perjuangan
Tetapi
suatu hari saat nanti kenyataan
ini akan berakhir,
Namun bagimanapun CINTA kita
bertahan teguh,
Karena cinta ini tak bisa terbawah
Oleh Gelombang
Dan kuyakin apa yang kita pikirkan
Saat ini
Akan terwujud indah pada waktunya
Dalam keadaan bagimanapun,
Akan selalu ada tetap terukir
sampai kapanpun
Karena CINTA yang kita punya
Dan juga karena CINTA yang kita
RASA
Kita semuanya punya CINTA, dan
SAYANG
Asrama Cenderawasi IX Papua Gorontalo No.Kamar 20
Oleh Beatus Pigome
(Hidup dan
Mati ditengah Gelombang, dan terus
lambaikan Bendera)
Layunya Bunga Cinta "Sakitnya Batin Ku"
Seperti itu juga aku, persis yang kualami saat ini. Saat
seseorang berkata cinta pada kita, namun lama-kelamaan omongan itu juga basi
dan akhirnya mengundang air mata yang tiada batas waktu. Seharusnya aku ingin baik-baik dan tersimpan
utuh air mataku, namun tak menolaknya rasa sakit, kesal, dan kecewanya maka
kuharus medinarkan
air mata di pipiku.
Luka ini selalu ada, dan tak berakhiri dari sakitnya hati
ini. Mungkinlah ini akan terobati ketika aku mengenal sesosok dia. Senyuman
buat aku dan berkata,, “Hmm,,
ade Meilandku”. Ia namanya Sherfa Wapi. Biasa disapa Sherfa. Ganteng, sopan dan
paling yang aku suka dibalik penampilan yang sederhana menipu pandanganku. Aku
kira, ia anak orang sederhana yang seperti aku ini. Ternyata ia anak orang kaya
dan terpandang di desanya. Wui,, paranya.
“Bagaimana mungkin aku bisa dapat kaka Sherfa,” berbatin
selalu dalam batinku, setiap aku bertemu dan memberi senyum padaku. Arghh,,
kaka Sherfa..Sherfa.
Detak jantung ini tak pernah sedebar, jika aku bertemu dengan
lawan jenis lainnya. Selain kaka Sherfa. Mungkin ini cinta. “Arghh,, Bodoh
Meiland, dia kaka kelas tiga (3). Mana mungkin mau sama kamu yang cuma adik
kelas, yang berharap terlalu besar.” Berbatinku, ketika berbaringan dalam
tempat tidurku.
Keesokan harinya, matahari terus terpancar terang
menjemuri bumi. Jadinya aku tetap tegar untuk bangun pagi dan siap berangkat ke
sekolah. aku berjalan kaki dan setibanya di halte, aku SMS temanku, Merry.
Untuk kita sama-sama berangkat memakai motor metik putih itu.
Ia pun
datang dan menjemputku.
“Meiland, lihat di belakang kita. Jaket biru bergaris,
tebak siapa?” kata temanku, Merry sambil melihat kaca spion. “ Siapa ya, hati
dag dig dug ini. My dear, di belakangku”
ujarku sambil senyum-senyum sendiri.“Ciee, pagi-pagi sudah ada yang senang ini”
ledek Merry.
Sesampai di parkiran sekolah, ternyata kak Sherfa juga
parkir di samping motornya Merry. Wui,, keren sekali, saat dia buka helmnya
sampai aku tak tahan gemaran cinta pada kaka dia.
“Meiland, Meiland.. Hello?” panggil Merry.
“Hah, apa apa” jawabku kaget.
“Mantap sekali
kaka Sherfa tadi saat buka helmnya, tak peduli walaupun motornya bukan motor
ninja, atau sejenisnya” kata Merry panjang lebar padaku.
“ Ya,ya keren,
puas” Merry berkata. “ Puas,” kataku sambil kita masuk kelas X4 Maichel Angelo
Buonarotty.
Di kelas, aku tak tahan sakit kepala. Rasanya ruangan
kelas ini putar-putar. Merry mengantar aku ke UKS dan memaniku. “Merry, gorden
jendelanya dibuka” kataku dan apa yang kulihat di lapangan. Ada kaka Sherfa
sedang jadwalnya olahraga. Dan begitu buka gorden, entalah kaka Sherfa melihat
kita dan tersenyum luru-lurus padaku. Wui,, ini obat ini rasanya, sakit
kepalaku kini jadi mending. Ya Tuhan jantungku tambah dag, dig, dug. Setelah
kulihat senyuman tersunggung padaku.
Sambil digandeng Merry, aku kembali ke kelas dan hadia terindah yang kudapat hari ini adalah
senyuman itu, kaka Sherfa tersenyum padaku.
“Kami belajar pun asyik. Tak rasa sakit di badanku.”
Berbatin Selly.
Bunyi loncen pun terdengar. Tandanya, proses belajar
mengajar hari ini telah akhiri. Aku dan Merry pun mengayungkan beberapa langka
mendekati tempat parkiran sekolah. Kita menemui motornya, Merry ban belakang
dan depan kempes total.
“ Merry, tak ada perkerjaan lain jadi mereka berbuat begitu.
Kolot mereka!” kataku emosi.
“ Kenapa dek?” tanya kaka Sherfa tak aku sadari, ia sudah
di sampingku.
“Hahah, kempes ini kak” kataku dengan grogi.
“Ohh” katanya,
singkat. Hanya itu ia tanya simpel tapi bagiku angat berharga. Apa lagi dia
orang yang kujadi-jadikan sebagai hembusan napasku. Mana Merry cuma pegang hp
saja, menipu kaka dia, Merry ada asyik smsan.
Kaka Sherfa membuka jock motornya dan ia memberi kita
pompa. Aku ambil dan mencoba mengisinya tapi tak mengisi-mengisi. Masih saja,
kempes. Tahu to, ini cuma setiap
tarikan dua kali dan berhenti istirahat.
“Kok, seperti begini bagaimana, ban terisi total” kata
Sherfa dengan lembut dan sopan. Sudah, sekarang kaka dia yang pompa dan aku
hanya pegang pelek. Akhirnya bisa terisi dan tanpa kendala.
Kaka Sherfa pun star motor jalan, entah kemana. Aku dan
Merry pun sama. Tak sampai 50 m ke depan Merry ketawa terbahak-bahak.
“Aku Jujur, Selly. Tadi, aku mengujimu. Biar kamu pun
bisa rasakan betapa groginya, kita ketemu dengan orang yang kita berbunga.”
kata Merry.
“Ahh, kalau begini
terus aku mau-mau saja, asalkan kaka Sherfa penggerak aku yang menahan pelek.
Sekaligus penadah” jawab Selly agak kata romantis.
Sherfa Wapi, simpel sekali namanya kaya aku juga
Marseliana. Haha,,cocok sekali. Yang ada di pikiranku minggu-minggu ini cuma
sherfa saja, sampai mama disuruh sterika pakaian 50 kg pun, kumampu habiskan.
Pagi ini, berbagai anekaragam bioma yang bersura namun
kuterdengar jelas hanya semerdu suara burung maleo, membangunkanku dari
ketiduranku. Sedetik lagi, suara Handphone
bergetar. Ternyata sms dari si Merry “ Kamu dan kaka Sherfa satu ruang saat
semester ganjil ini.” Kutipnya begitu.
Senangnya tak tertolong, dan tambah girang lagi, kalau
aku satu bangku dengan kaka Sherfa. Bayangkan saja, pasti tak sabar menunggu
matahari menyambut aku di sekolah.
Esok paginya aku berangkat kesekolah untuk ikut ujian.
Aku cek daftar tempat duduk yang terpempel di pintu, “Marselina nomor 07
pasangan bangkunya dengan Novena, ia nomor 07 juga. Aduh, sial sekali deh. Aku
tak satu bangku dengan my Dear. Kaka Sherfa nomor 12 dengan Sia. Sedih, sial
juga. Memang sial nasibku.
“Ban motornya kempes lagi, tidak ade?” ujar kaka Sherfa
tiba-tiba dari belakang.
“Tambah berbunga saja ini. Oh iya makasih kaka, lain kali
bantu lagi ya” jawabku.
“Tidak mau, ah. Kalau yang memompanya tidak ada tenaga”
balas kaka Sherfa. “Hmmm,,kaka Sherfa. Jangan begitu” kataku sambil memukul
bahunya.
Lucu juga kaka Sherfa, ternyata aku tak henti-hentinya
untuk melihat kaka dia. Saat ia kerjakan soal ujian. Andaikan dia tahu seberapa
besar hatiku buatnya.
Kita bersapa seperti biasa. Memang adik kaka kok.??
Setelah tiga bulan lamanya, aku sudah dekat dengan kak
Sherfa. Kini, SMS, Inbox, WhasApp dan mention-mentionan lancar.
Tapi sunggu! Semua SMS kubaca dan teriama tapi yang
kuanggap hari telah siang adalah ketika Sabtu,
28 Agustus 2015. Pada pukul 15.00 WIB. Hari memperingati st. Yohanaes
Pembamptis “ Yang mana ia dipanggil sebagai sang peluruskan jalan bagi Tuhan”.
Semua isi SMS nya kuingat jelas. “Ade bagus, aku telah
terhipnotis dengan kutipan kata-kata sebelumnya. Kaka telah jatuh cinta
denganmu. Aku janji, aku akan setia sampai ajal yang menjemput kita.” Kutipan
smsnya. Wui, betapa
terobatinya batinku. Selly harap,
hatiku tak memberi kepada siapa pun. Yang ada dalam hatiku, pikiranku, dan
ingatanku hanya kau lelaki lembutku, Sherfa Wapi.
Saat minggu pertama, semua rasa dan cinta akan berjalan
dengan mulus-semulusnya. Rasa di hatiku hanya untuknya. Saat malam minggu
pertama kita bertemu di Balkon samping rumahku dan dia sangat romantis
memperlakukanku seibarat puterinya. Jujur dia orangnya baik, ganteng, dan
sopan. Minggu kedua pun demikian, yang ada hanya indah saja.
Tapi minggu
ketiga, mengapa harus ada peristiwa seperti ini, “Aku sayang sama kamu tapi
lebih sayang hanya teman baikku dari kelas satu. Namanya Rosita. Ia sebagai
pelengkap hidup. Terutama dalam proses sekolah, dari awal hingga kini. Aku tak enak, kalau harus menolaknya.”
Kutipan bunyi smsnya.
“Ok, Bajingan! Sekarang apa yang aku harus lakukan?
Tanyaku dari telphone dengan mataku berkaca-kaca.
“Kita putus saja, dek. Aku sayang sama kamu tapi aku tak
bisa” kata kak Sherfa.
“Kak, kamukan sudah tahu, kalau kamu sudah ada yang,
memilikimu tapi kenapa masih mengganggu aku. Gila!” kataku dengan nada tinggi.
“ Maaf adek bagus” kata Sherfa.
“Biar sudah,, sayangku. Aku tak mampu menahan matahari
yang telah terbenam di sengja hari. Setelah terbenamnya, hanya ada untuk menjemput
gelapnya malam yang tak beraturan. Hanya, ada angin, hujan gerimis bahkan
petir. Peristiwa ini pula kudapi detik ini.” Kata terakhirku, walau kedua terjun ini tetap dan lancar
dari kedua pipiku yang iba ini.
“Tut, tut, tut” Suara telepon pun diakhiri.
"Aduh, goblok! Sakit."
Semoga kau senang dengan keputusanmu. Sekarang, walau
kini tinggallah luka yang sangat dalam dan susah untuk move on. Tapi, mungkin Meiland tetap
untuk mencintaimu, kak Sherfa. Ingat! Aku tak akan lupa namamu. Kamu juga
Sherfa Wapi dan Aku pun Meiland. Aku tetap menunggu dirimu dalam heningan luka
batin yang paling dalam untuk menyembukan
kembali darinya. Kaka, adik Meiland sakit.
END
Oleh: Fabianus
Pigome
Layunya Bunga Cinta "Sakitnya Batin Ku"
18.43
0 Comments
Salah satu pelajaran berharga di dunia ini, adalah cinta.
Susah, sedih bahkan sakit aku lewati bersamanya. Awalnya seperti kupu-kupu yang
percaya dengan bunga yang selalu memberi madunya alias kemanisan, tapi saat
madu itu mulai akan basi, lama-kelamaan madu itu juga akan pahit.
Seperti itu juga aku, persis yang kualami saat ini. Saat
seseorang berkata cinta pada kita, namun lama-kelamaan omongan itu juga basi
dan akhirnya mengundang air mata yang tiada batas waktu. Seharusnya aku ingin baik-baik dan tersimpan
utuh air mataku, namun tak menolaknya rasa sakit, kesal, dan kecewanya maka
kuharus medinarkan
air mata di pipiku.
Luka ini selalu ada, dan tak berakhiri dari sakitnya hati
ini. Mungkinlah ini akan terobati ketika aku mengenal sesosok dia. Senyuman
buat aku dan berkata,, “Hmm,,
ade Meilandku”. Ia namanya Sherfa Wapi. Biasa disapa Sherfa. Ganteng, sopan dan
paling yang aku suka dibalik penampilan yang sederhana menipu pandanganku. Aku
kira, ia anak orang sederhana yang seperti aku ini. Ternyata ia anak orang kaya
dan terpandang di desanya. Wui,, paranya.
“Bagaimana mungkin aku bisa dapat kaka Sherfa,” berbatin
selalu dalam batinku, setiap aku bertemu dan memberi senyum padaku. Arghh,,
kaka Sherfa..Sherfa.
Detak jantung ini tak pernah sedebar, jika aku bertemu dengan
lawan jenis lainnya. Selain kaka Sherfa. Mungkin ini cinta. “Arghh,, Bodoh
Meiland, dia kaka kelas tiga (3). Mana mungkin mau sama kamu yang cuma adik
kelas, yang berharap terlalu besar.” Berbatinku, ketika berbaringan dalam
tempat tidurku.
Keesokan harinya, matahari terus terpancar terang
menjemuri bumi. Jadinya aku tetap tegar untuk bangun pagi dan siap berangkat ke
sekolah. aku berjalan kaki dan setibanya di halte, aku SMS temanku, Merry.
Untuk kita sama-sama berangkat memakai motor metik putih itu.
Ia pun
datang dan menjemputku.
“Meiland, lihat di belakang kita. Jaket biru bergaris,
tebak siapa?” kata temanku, Merry sambil melihat kaca spion. “ Siapa ya, hati
dag dig dug ini. My dear, di belakangku”
ujarku sambil senyum-senyum sendiri.“Ciee, pagi-pagi sudah ada yang senang ini”
ledek Merry.
Sesampai di parkiran sekolah, ternyata kak Sherfa juga
parkir di samping motornya Merry. Wui,, keren sekali, saat dia buka helmnya
sampai aku tak tahan gemaran cinta pada kaka dia.
“Meiland, Meiland.. Hello?” panggil Merry.
“Hah, apa apa” jawabku kaget.
“Mantap sekali
kaka Sherfa tadi saat buka helmnya, tak peduli walaupun motornya bukan motor
ninja, atau sejenisnya” kata Merry panjang lebar padaku.
“ Ya,ya keren,
puas” Merry berkata. “ Puas,” kataku sambil kita masuk kelas X4 Maichel Angelo
Buonarotty.
Di kelas, aku tak tahan sakit kepala. Rasanya ruangan
kelas ini putar-putar. Merry mengantar aku ke UKS dan memaniku. “Merry, gorden
jendelanya dibuka” kataku dan apa yang kulihat di lapangan. Ada kaka Sherfa
sedang jadwalnya olahraga. Dan begitu buka gorden, entalah kaka Sherfa melihat
kita dan tersenyum luru-lurus padaku. Wui,, ini obat ini rasanya, sakit
kepalaku kini jadi mending. Ya Tuhan jantungku tambah dag, dig, dug. Setelah
kulihat senyuman tersunggung padaku.
Sambil digandeng Merry, aku kembali ke kelas dan hadia terindah yang kudapat hari ini adalah
senyuman itu, kaka Sherfa tersenyum padaku.
“Kami belajar pun asyik. Tak rasa sakit di badanku.”
Berbatin Selly.
Bunyi loncen pun terdengar. Tandanya, proses belajar
mengajar hari ini telah akhiri. Aku dan Merry pun mengayungkan beberapa langka
mendekati tempat parkiran sekolah. Kita menemui motornya, Merry ban belakang
dan depan kempes total.
“ Merry, tak ada perkerjaan lain jadi mereka berbuat begitu.
Kolot mereka!” kataku emosi.
“ Kenapa dek?” tanya kaka Sherfa tak aku sadari, ia sudah
di sampingku.
“Hahah, kempes ini kak” kataku dengan grogi.
“Ohh” katanya,
singkat. Hanya itu ia tanya simpel tapi bagiku angat berharga. Apa lagi dia
orang yang kujadi-jadikan sebagai hembusan napasku. Mana Merry cuma pegang hp
saja, menipu kaka dia, Merry ada asyik smsan.
Kaka Sherfa membuka jock motornya dan ia memberi kita
pompa. Aku ambil dan mencoba mengisinya tapi tak mengisi-mengisi. Masih saja,
kempes. Tahu to, ini cuma setiap
tarikan dua kali dan berhenti istirahat.
“Kok, seperti begini bagaimana, ban terisi total” kata
Sherfa dengan lembut dan sopan. Sudah, sekarang kaka dia yang pompa dan aku
hanya pegang pelek. Akhirnya bisa terisi dan tanpa kendala.
Kaka Sherfa pun star motor jalan, entah kemana. Aku dan
Merry pun sama. Tak sampai 50 m ke depan Merry ketawa terbahak-bahak.
“Aku Jujur, Selly. Tadi, aku mengujimu. Biar kamu pun
bisa rasakan betapa groginya, kita ketemu dengan orang yang kita berbunga.”
kata Merry.
“Ahh, kalau begini
terus aku mau-mau saja, asalkan kaka Sherfa penggerak aku yang menahan pelek.
Sekaligus penadah” jawab Selly agak kata romantis.
Sherfa Wapi, simpel sekali namanya kaya aku juga
Marseliana. Haha,,cocok sekali. Yang ada di pikiranku minggu-minggu ini cuma
sherfa saja, sampai mama disuruh sterika pakaian 50 kg pun, kumampu habiskan.
Pagi ini, berbagai anekaragam bioma yang bersura namun
kuterdengar jelas hanya semerdu suara burung maleo, membangunkanku dari
ketiduranku. Sedetik lagi, suara Handphone
bergetar. Ternyata sms dari si Merry “ Kamu dan kaka Sherfa satu ruang saat
semester ganjil ini.” Kutipnya begitu.
Senangnya tak tertolong, dan tambah girang lagi, kalau
aku satu bangku dengan kaka Sherfa. Bayangkan saja, pasti tak sabar menunggu
matahari menyambut aku di sekolah.
Esok paginya aku berangkat kesekolah untuk ikut ujian.
Aku cek daftar tempat duduk yang terpempel di pintu, “Marselina nomor 07
pasangan bangkunya dengan Novena, ia nomor 07 juga. Aduh, sial sekali deh. Aku
tak satu bangku dengan my Dear. Kaka Sherfa nomor 12 dengan Sia. Sedih, sial
juga. Memang sial nasibku.
“Ban motornya kempes lagi, tidak ade?” ujar kaka Sherfa
tiba-tiba dari belakang.
“Tambah berbunga saja ini. Oh iya makasih kaka, lain kali
bantu lagi ya” jawabku.
“Tidak mau, ah. Kalau yang memompanya tidak ada tenaga”
balas kaka Sherfa. “Hmmm,,kaka Sherfa. Jangan begitu” kataku sambil memukul
bahunya.
Lucu juga kaka Sherfa, ternyata aku tak henti-hentinya
untuk melihat kaka dia. Saat ia kerjakan soal ujian. Andaikan dia tahu seberapa
besar hatiku buatnya.
Kita bersapa seperti biasa. Memang adik kaka kok.??
Setelah tiga bulan lamanya, aku sudah dekat dengan kak
Sherfa. Kini, SMS, Inbox, WhasApp dan mention-mentionan lancar.
Tapi sunggu! Semua SMS kubaca dan teriama tapi yang
kuanggap hari telah siang adalah ketika Sabtu,
28 Agustus 2015. Pada pukul 15.00 WIB. Hari memperingati st. Yohanaes
Pembamptis “ Yang mana ia dipanggil sebagai sang peluruskan jalan bagi Tuhan”.
Semua isi SMS nya kuingat jelas. “Ade bagus, aku telah
terhipnotis dengan kutipan kata-kata sebelumnya. Kaka telah jatuh cinta
denganmu. Aku janji, aku akan setia sampai ajal yang menjemput kita.” Kutipan
smsnya. Wui, betapa
terobatinya batinku. Selly harap,
hatiku tak memberi kepada siapa pun. Yang ada dalam hatiku, pikiranku, dan
ingatanku hanya kau lelaki lembutku, Sherfa Wapi.
Saat minggu pertama, semua rasa dan cinta akan berjalan
dengan mulus-semulusnya. Rasa di hatiku hanya untuknya. Saat malam minggu
pertama kita bertemu di Balkon samping rumahku dan dia sangat romantis
memperlakukanku seibarat puterinya. Jujur dia orangnya baik, ganteng, dan
sopan. Minggu kedua pun demikian, yang ada hanya indah saja.
Tapi minggu
ketiga, mengapa harus ada peristiwa seperti ini, “Aku sayang sama kamu tapi
lebih sayang hanya teman baikku dari kelas satu. Namanya Rosita. Ia sebagai
pelengkap hidup. Terutama dalam proses sekolah, dari awal hingga kini. Aku tak enak, kalau harus menolaknya.”
Kutipan bunyi smsnya.
“Ok, Bajingan! Sekarang apa yang aku harus lakukan?
Tanyaku dari telphone dengan mataku berkaca-kaca.
“Kita putus saja, dek. Aku sayang sama kamu tapi aku tak
bisa” kata kak Sherfa.
“Kak, kamukan sudah tahu, kalau kamu sudah ada yang,
memilikimu tapi kenapa masih mengganggu aku. Gila!” kataku dengan nada tinggi.
“ Maaf adek bagus” kata Sherfa.
“Biar sudah,, sayangku. Aku tak mampu menahan matahari
yang telah terbenam di sengja hari. Setelah terbenamnya, hanya ada untuk menjemput
gelapnya malam yang tak beraturan. Hanya, ada angin, hujan gerimis bahkan
petir. Peristiwa ini pula kudapi detik ini.” Kata terakhirku, walau kedua terjun ini tetap dan lancar
dari kedua pipiku yang iba ini.
“Tut, tut, tut” Suara telepon pun diakhiri.
"Aduh, goblok! Sakit."
Semoga kau senang dengan keputusanmu. Sekarang, walau
kini tinggallah luka yang sangat dalam dan susah untuk move on. Tapi, mungkin Meiland tetap
untuk mencintaimu, kak Sherfa. Ingat! Aku tak akan lupa namamu. Kamu juga
Sherfa Wapi dan Aku pun Meiland. Aku tetap menunggu dirimu dalam heningan luka
batin yang paling dalam untuk menyembukan
kembali darinya. Kaka, adik Meiland sakit.
END
Oleh: Fabianus
Pigome
Lembaran Biru
![]() |
| Oleh Fabianus Pigome |
Terukir indah kisah tercipta di setiap helai nafasku
Aroma senyummu terukir setengah tembok rumahku
Rangkaian asmara meraba jiwa yang sepi
Warna warni mengelabui hatiku
Namun badai terlalu cepat menghadang
Tak mampu menahan kepahitan jiwa
Pada waktunya kisah itu musnah pula
Biarlah kau pergi jauh dariku
Membawa kenangan yang pernah terukir dalam balutan pedih
Demi namamu yang pernah singgah di hatiku
Ku ucapkan selamat tinggal masa laluku
Kan ku sambut hari nan cerah
Membuka lembaran biru jauh lebih indah dari masa laluku
Menata kembali ruang setiap sudut hatiku
Sembari membuka senyum yang pernah memudar
Kelak menyambut datangnya carita baru
Tentang persinggahan rasa yang didera jiwa
Kangenku, Miss
![]() |
|
Suatu hari nanti, waktu mempertemukan kita
Entalah aku akan memelukmu
Serta kukatakan pada setiap jengkal kulitmu,
bahwa aku teramat
merindukanmu, Miss
Kan kubisikan pencerahan cinta di telingamu, berulang-ulang
Dan engkau pun dapat rasa nyaman
Selain, ketika kunyanyikan syairku
Sehingga
engkau tertidur pula
Dan engkau telah berkata
Aku
akan cakarkan betapa rasa rinduku di atas kertas putih dan kuakan kirimkan
Tapi kini, telah menjadi penipu belaka
Membuatnya kurapuh, dan tak
berdaya
Namun tak apalah,,,
Entalah itu karena lupamu atau kesibukan
mengajar lainmu di sekolah Kutuliskan di hatimu betapa aku menyayangi setelah
letih menidurkanku
Dan
membawaku ke alam mimpi
Hari ini kurasakan pagi bernyanyi untuk aku,,
Masih teringat jelas di telingaku, lembut suaramu semerdu lagu bidadari
Saat kau menyapa mimpiku malam
tadi,
Masih nampak jelas di mataku, senyum manismu yang membuatku merasakan
indahnya kebahagiaan kita,
Dan masih teringat jelas pula jemariku
membelai rambutmu yang terurai
Namun,,
Canda tawa bersamamu, kini hanya penantian
Tutur sapa denganmu, kini hanya impian
semata
Jauh tatapan untuk bertemu
Jauh kata untuk menyapa
Walau jarak membentang memisahkan kita
Tapi, hati ini selalu menanti kehadiranmu
Aku kangen kamu,Miss
RINDU YANG TAK BISA HAPUSKANoLEH
| Oleh Agustinus Keiya |
Tak ku sangka rindu
Rinduku telah kutuliskan di batu
ombak dan badai menghembus
tak kan pernah menghapusnya
mama....
Ini anakmu
yg kau puji juga kau hormati
kini kau telah tiada
adakah waktu luangmu
demi rasa hormatmu padaku.
Beta kah melihat anakmu
yg bosan menunggumu
ataukah memang takdir.
Diantara Beribu Mama
![]() |
| Ilustrasi,Puisi kasih sayang Ibu dan anaknya, Oleh : Agustinus keiya |
Diantara sekian banyak mama
Hanya kau, paling ikhlas
Bila ku bepergian
Diantara beribu mama
Hanya kau, mama paling sibuk
Bila ku pulang kampung
Diantara beribu orang menantiku
Hanya kau, paling menantiku
Diantara beribu gunung berjejer
Hanya kau, paling indah
Diantara beribu mama dipasar
Hanya kau, setulus hati demi anakmu
dikota
Diantara beribu mama
Hanya kau, dan kau, dan tetap kau,
mama pilihanku.
Engkaulah ibuku
Engkaulah pendamping setiaku
Engkaulah napasku
Ku ada karena engkau
Mauwa Mogiyai, 25 november 2015
Meeyoka, Biarlah Aku Sendiri
Pahit dan manis hidup dulu pernah kita jalani
Membuat taman misfala berwarna warni
Membuat hari-hari kita melingkar
Hanya santapi raja sawah, bulat lonjong, berwarna
putih
Benar-benar ku ingat di masa-masa indah itu
Setelah ku tinggal pergi selama-lamanya
Aku tak berdaya
Namun aku iklaskan kalian
Agar kalian tenang di negeri milu sana
Kini biarlah aku sendiri
Tanpa seindahku dulu bersama kalian
Karena masa-masa indah ini
Telah ku tinggalkan digubuk Asrama Cendrawasih bersama
kalian
Begitu juga kebersamaan kita
Kini menjadi takut kehilangan sahabat terbaikku
seperti kalian
Jika ada saat yang tepat jangan lupa menghubungiku
Aku menanti kehadiran kalian sampai kapanpun,
Dimanapun, biar rinduku redah
Biarlah aku sendiri disini,
Tanpa rasa Satu
Lapar Semua Lapar, Satu Kenyang Semua Kenyang.
Namun jiwaku masih haus bersama kalian.
Timika, 09 juni 2015
Gustik ipou keiya.
Langganan:
Postingan (Atom)







