| Oleh Beatus Pigome |
Ketika kata tak mampu lagi merangkai makna
apa itu ayah..
ketika hati tak biasa lagi menuai arti
hanya tatapan sendu yang belinangkan air mata
sebagai pertanda rasa kesedihan yang ada''
ketika hati tak biasa lagi menuai arti
hanya tatapan sendu yang belinangkan air mata
sebagai pertanda rasa kesedihan yang ada''
terlintas sebuah bayangan yang telah hilang sekian tahun yang lalu
saat dimana diharuskan air mata untuk berlinang
mengenangkan saat-saat perpisahan
dengan mu Ayah
hingga akhirnya hanyalah tangisan dalam Batin ku
kehilangan terkadang membuat hati dilanda kesedihan
hingga tanpa disadari air matapun berlinang
sebagai pertanda kerinduan yang teramat mendalam
namun sayang rinduku hanyalah bayangan
yang ada kini tinggalah kenangan pada diri ku
yang mampu kupandangi hanyalah gambaran wajah mu
yang dapat ku ingat, kini hanyalah jejak mu
yang bisa kudengar kini hanyalah nasehat mu
hingga akhirnya hanyalah tangisan dalam Batin ku
kehilangan terkadang membuat hati dilanda kesedihan
hingga tanpa disadari air matapun berlinang
sebagai pertanda kerinduan yang teramat mendalam
namun sayang rinduku hanyalah bayangan
yang ada kini tinggalah kenangan pada diri ku
yang mampu kupandangi hanyalah gambaran wajah mu
yang dapat ku ingat, kini hanyalah jejak mu
yang bisa kudengar kini hanyalah nasehat mu
dipaksa suruh pergi ke sekolah
memukuli aku dengan rotan dan tongkat kayu
sampai badan ku pun berdarah
dibalik nasehat mu memetik rindu pada diriku
dibalik nasehat mu memetik rindu pada diriku
nama mu kau AYAH'
Tidak ada komentar:
Posting Komentar